Senin, 09 Juli 2018 - 14:06:10

8.928 Caleg Bakal Berebut Kursi Wilayah Riau

    Habibi Muthalib Hits : 1    

riaupos.co


Pekanbaru,Riuakasi.com PESTA demokrasi berlangsung sambung-menyambung. Belum semua daerah menuntaskan proses pilkada serentak, menunggu hasil pleno di Komisi Pemilihan Umum (KPU), kini berlanjut pesta demokrasi terbesar Pemilu 2019.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah resmi membuka pendaftaran calon legislatif (caleg) pada Rabu, 4 Juli 2018. KPU memastikan bahwa sistem informasi pencalonan (silon) untuk pemilihan umum sudah siap.

Praktis merata seluruh Indonesia, tidak terkecuali di Riau menyambut gegap gempita. Aroma pemilu legislatif sejatinya sudah terasa seiring gelaran pilkada serentak. Puncaknya lebih terasa saat ini, sejumlah instansi seperti rumah sakit jiwa (RSJ), kantor pengadilan, kantor kepolisian penuh sesak dipadati para bakal caleg yang sedang mengurus surat persyaratan. Paling membludak di RSJ Pekanbaru.

Tahun 2018 sebagai tahun politik sudah start menuju bursa demokrasi. Gayung bersambut, woro-woro KPU langsung digenderangi oleh 16 partai politik (parpol) , serentak menabuh gong pertanda membuka “lowongan pekerjaan” dan menyeleksi pelamar yang berminat bergabung meramaikan adu “jagoan” antar dan inter parpol. Diperkirakan bakal ada sekitar 8.928 caleg berjibaku mempersiapkan ”bekal” untuk memperebutkan 558 kursi DPR RI/ DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota di wilayah Riau pada Pemilu 2019. Berpedoman keputusan KPU Nomor 267 tahun 2018 tentang ketetapan daerah pemilihan dan alokasi kursi dearah pemilihan anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota di wilayah Provinsi  Riau dalam Pemilu 2019.

Dapat diketahui alokasi kursi DPRD Provinsi Riau berjumlah 65, sedangkan untuk kabupaten/ kota se-Riau 480 kursi total 545 kursi. Maka jika diasumsikan  dengan perhitungan jumlah kursi 545 dikalikan jumlah 16 partai politik (parpol)  akan ada 8.720 caleg yang bertarung pada laga terdahsyat pesta pora Pemilu 2019.

Dengan rincian DPRD Provinsi Riau 65 kursi dikalikan 16 parpol 1.040 caleg. Sedangkan untuk 12 kota/kabupaten se-Riau 480 kursi dikali 16 parpol 7.680 caleg , total caleg kabupaten/kota dan provinsi 8.720.

Jumlah  alokasi kursi DPRD Provinsi Riau 65, selanjutnya DPRD kabupaten/kota secara berurutan Kampar 45, Bengkalis 45, Inhu 40, Inhil 45, Pelalawan 35, Rohul 45, Rohil 45, Siak 40, Kuansing 35, Meranti 30, Pekanbaru 45, dan Dumai 30.

Total jika digabungkan dengan jumlah kursi DPR RI di Gedung Senayan Jakarta jatah kursi Riau 13. Maka 13 kursi dikalikan 16 parpol sama dengan 208 caleg. Maka jika dijumlahkan untuk DPR RI, DPRD provinsi dan DPRD kota/kabupaten total 8.928 caleg. Alokasi kursi yang diperebutkan adalah; DPR RI 13, DPRD provinsi 65, kabupaten/kota 480 total 558 kursi. Dan jangan lupa ditambah 4 kursi lagi untuk DPD RI.

Data tersebut menggambarkan magaimana sengitnya persaingan untuk menduduki kursi parlemen. Di mana para caleg berasal dari 16 partai politik (parpol). Artinya, jika ingin terpilih menjadi wakil rakyat, maka setiap calon legislatif (caleg) harus menyingkirkan 16 orang. Persaingan tidak hanya antar parpol tetapi juga sesama internal parpol.

Setiap partai politik bebas membuat kriteria yang harus dipenuhi pelamar, tetapi pada intinya hanya ada tiga kriteria utama yang bisa mewakili persyaratan lainnya, yaitu kejujuran, integritas, dan loyalitas.

Dalam konteks partai politik yang sekarang sedang menyeleksi caleg, tidak cukup hanya ketiga nilai itu, karena untuk menjadi caleg harus memiliki minimal lima modal dasar untuk menggapai kursi  parlemen.

Pertama, popularitas (terkait dengan tingkat pengenalan masyarakat terhadap calon). Kedua, elektabilitas (keinginan masyarakat untuk memilih calon). Ketiga, moralitas dan integritas (terkait perilaku dan kejujuran yang ditunjukkan calon). Keempat, dana kampanye (kemampuan keuangan calon untuk memobilisasi dukungan). Kelima, mesin partai politik dan tim sukses caleg (dukungan organisasi untuk memobilisasi dukungan).

Dalam setiap musim pemilu, animo dan respon masyarakat dipastikan meningkat melamar menjadi bacaleg (bakal caleg), tanpa mempertimbangkan lagi kemampuan yang dimiliki. Setiap orang merasa mampu dan layak untuk tampil, karena persyaratan administrasinya sangat gampang. Terlebih pada Pemilu 2019 ada 16 partai politik yang siap bersaing. Maka hampir setiap orang punya peluang untuk menjadi caleg.

Maka jangan heran jikalau ada parpol  jumlah bacalegnya sudah melebihi kuota 100 persen. Tetapi jangan kaget jika ada parpol yang masih pontang panting untuk sekedar menggenapi kuota di sejumlah daerah pemilihan (DP). Kabarnya malahan ada parpol karena kekurangan caleg terpaksa mencari orang lalu diberikan imbalan uang dan barang, semua persyaratan diuruskan partai, asal mau jadi caleg di partainya.

Membludaknya caleg, disatu sisi mengisyaratkan perkembangan demokrasi dengan banyaknya rakyat ingin berpartisipasi memberi kontribusi membangun bangsanya. Namun di sisi lain menjadi persoalan kalau antusiasme begitu besar itu berbanding terbalik dengan rendahnya tingkat kualitas caleg.

Banyak kejadian yang unik dan menarik setiap musim pemilu. Rekrutmen parpol yang asal comot menjadi dagelan (lawakan) yang menggelikan. Betapa banyak orang awam politik demi menggenapi kuota caleg atau tersebab bisikan memabukkan nyemplung ke dunia penuh intrik. Rasa menyesal setelah pasca pemilu mendera batin. Karena merasa malu tidak terpilih menjadi  beban mental berkepanjangan.

Parpol juga ikut andil menambah persoalan, karena rekruitmen partai politik mengabaikan profesionalitas dimana pemilihan atau penempatan orang tidak disesuaikan dengan kemampuan, keahliannya. Mengabaikan sistem kemampuan dengan lebih mengedepankan sistem relasi atau transaksi dalam rekrutmen caleg.

Maka akan menjadi pemicu utama terjadinya inflasi politisi di negeri ini. Suatu kondisi di mana jumlah kuantitas politisi jauh lebih banyak dari kebutuhan, sementara secara kualitas tidak dirasakan langsung oleh rakyat. Setiap menjelang pemilu hampir bisa dipastikan akan bermunculan ribuan politisi baru yang akan bertarung memperebutkan kursi di parlemen.

Berdasarkan data pada Pemilu 2014, bila setiap partai politik dari 12 peserta memaksimalkan pengisian calon anggota DPR di 77 daerah pemilihan, terdapat 6.720 caleg yang berkompetisi menuju Senayan. Bila digabung dengan jumlah caleg DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota, setiap parpol menyiapkan sekitar 20.000 caleg. Untuk 12 parpol saja, diperlukan 240.000 orang tokoh untuk menjadi caleg. Sementara KPU (Komisi Pemilihan Umum) menyatakan Pemilu 2014 hanya menghasilkan sebanyak 20.257 anggota dewan.

Data ini menunjukkan bahwa 20.257 kursi parlemen yang tersedia di seluruh Indonesia pada Pemilu 2014 diperebutkan tidak kurang dari 240.000 orang. Dapat dibayangkan berapa banyak jumlah selisih antara keperluan dengan peminat.

Apakah pada Pemilu 2014 anda termasuk dari ribuan caleg yang  terlibat dalam pertempuran? Jika demikan anda sudah tahu seluk-beluk sulitnya medan perang. Dan bagi anda caleg yang baru mencoba, maka dapat dipastikan anda memiliki semangat lebih kuat .

Kenapa? Karena dua alasan yakni pertama, baru mencoba, kedua masih buta medan sehingga punya modal tekad dan nekad. Mengucapkan selamat bertarung di laga terdahsyat Pemilu 2019, semoga anda-lah pemenangnya, Good Luck!


    Category : Riau    
    Tags        : #pekanbaru,#Prov Riau    
    Sumber  : riaupos.co


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     








      Terkini  



      Most Popular  



      Teknologi  




    Satelit Merah Putih Resmi Mengorbit

      Ekonomi Bisnis  




    BEI perbarui sistem perdagangan dengan JATS NextG