Kamis, 09 Maret 2017 - 11:19:05

Gawat, Persaingan Industri Automotif Makin Sengit

    Gamanuel Yoga Elvradika Lien Hits : 161    

okezone.com


PARIS – Kesepakatan yang dicapai produsen mobil asal Prancis, PSA Group, dengan General Motors (GM) menjadikan persaingan automotif global semakin sengit.

Dengan berhasil mengakuisisi Opel dan Vauxhall, PSA kini menguntit Volkswagen di pasar Eropa. PSA bahkan siap melebarkan sayap ke Asia Tenggara dengan menggandeng Proton. Aksi korporasi PSA yang membeli Opel dan Vauxhall senilai 2,2 miliar euro atau setara Rp31 triliun menjadi babak baru peta industri auto motif. GM terpaksa melepaskan produksi di Eropa karena mengalami pailit. Mereka tidak memetik keuntungan sejak 1999. Kesepakatan dengan PSA bagi GM merupakan langkah taktis untuk menghindari kerugian besar. Namun, bagi karyawannya, langkah ini menimbulkan kekhawatiran karena masa depan mereka terancam.

Dengan pembelian dua merek itu, PSA Group akan berupaya memulihkan kejayaan Opel dan Vauxhall dan berharap dapat melakukan penghematan hingga 1,47 miliar poundsterling pada 2026. Pemangkasan terbesar akan dilakukan pada 2020. “Kami percaya diri Opel dan Vauxhall akan bangkit secara signifikan ketika sudah kami topang. Kami juga akan menghargai komitmen yang sudah dibuat GM terhadap staf Opel dan Vauxhall,” ujar Kepala PSA Group Carlos Tavares di dalam keterangan pers seperti di - kutip BBC.

“Semua buruh di Eropa pasti meminta perlindungan,” sambungnya. Tavaresa juga yakin karyawan Vauxhall akan menerima pelatihan peningkatan kinerja yang di ada kan PSA. Jumlah karya wan Vauxhall di Inggris mencapai 4.500 orang.

“Jika kinerja kita bagus dan meningkat dengan berbagi ilmu, kita akan mampu memaksimalkan peluang ekspor. Jika menjadi yang terbaik, kita tidak perlu cemas,” katanya. Tavares mengatakan pabrik Vauxhall di Inggris juga tidak akan ditutup.

“Apabila kalian melihat situasinya, kapasitas operasi Vauxhall mencapai 82%. Itu sangat bagus. Selama bertahun-tahun, Opel dan Vauxhall tidak melakukan ekspor ke luar Eropa karena GM memang membendungnya. Tapi PSA akan membuka potensi ini secara maksimal,” ujar dia.

Seorang karyawan Vauxhall di pabrik Ellesmere Port, Cheshire, Inggris, menilai kesepakatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. “Saya pikir kesepakatan baru ini menguntungkan bagi karya wan GM dan Vauxhall saat ini, tapi apakah masih ada harapan masa depan bagi karya wan yang lebih muda setelah tahun 2021?” tegas pria tersebut.

Pada tahun depan, PSA akan menentukan lokasi pembuatan generasi baru dari mobil Astra yang saat ini masih diproduksi di Inggris mengingat Inggris akan keluar dari Uni Eropa (UE). Sekretaris Jenderal Unite, Len McCluskey, mengaku akan berjuang siang dan malam untuk melindungi hak buruh Vauxhall di Ellesmere Port dan Luton, Inggris. “Model baru Astra saat ini di Ellesmere Port disepakati akan diproduksi hingga 2020/2021. Tapi apakah kalian serius akan ada model baru yang harus mereka terima pada tahun depan? Itu akan benar-benar menjadi tantangan besar. Pemerintah harus memastikan diri selalu hadir dalam berjuang melindungi para buruh,” tandas McCluskey.

Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May dikabarkan berkomunikasi dengan Ketua Eksekutif GM Mary Barra, Minggu (5/3). Dia ingin lapangan pekerjaan Vauxhall di Ellesmere Port dan Li dapat di amankan dalam jangka panjang. Barra menegaskan Vauxhall akan menjadi produk Inggris dan akan menghormati semua kesepakatan yang ada. Namun mantan Sekretaris Bisnis Sir Vince Cableme ragu kan kesepakatan tersebut. Sebab komitmen Pemerintah Inggris terhadap bea cukai dan pasar tunggal masih rendah.

“Komponen mobil bergerak dinamis di sepanjang garis per batasan. Vauxhall ren tan terhadap hal ini mengingat 80% ekspornya menuju UE,” katanya. Cable menambahkan, ambisi Inggris untuk berkompetisi dengan Jerman di bidang automotif akan memudar. Barra sendiri sebelumnya mengaku Opel dan Vauxhall masih ingin dia pertahankan dan sulit untuk melepaskannya. Namun, cepat atau lambat, bisnis automotif di Inggris akan rontok sekalipun Inggris tidak keluar dari UE. Profesor Peter Wells dari Cardiff Business School juga mengatakan target dan tantangan sebenarnya yang akan dihadapi PSA tidaklah mudah.

“Tavares dari PSA ingin melakukan penghematan hingga USD2 miliar per tahun jadi pasti ada pengorbanan. Di tengah ambisi tersebut, PSA juga akan mewarisi kekacauan besar,” terang Wells. Sebelum PSA, beberapa perusahaan automotif lainnya juga sudah melakukan akuisisi, merger, atau joint venture. BMW dengan Brilliance, Ford dengan Blue Diamond Truck, Isuzu dengan GM, Nissan dengan Mitsubishi, Porsche dengan Volkswagen, Renault dengan AvtoVAZ, Toyota dengan Daihatsu, dan Tata Motors dengan Fiat. Tidak dapat dimungkiri industri automotif menjadi salah satu sektor ekonomi paling penting di dunia.

Tuntutan kebutuhan moda transportasi yang aman dan nyaman meningkat dari tahun ke tahun, terutama di negara berkembang. Berdasarkan perkiraan Boston Consulting Group, sepertiga tiga tuntutan automotif akan terpusat di Brasil, Rusia, India, dan China. PSA Group merupakan pemain lama di industri ini. De ngan mengandalkan Peugeot, Citreon, dan DS Automobiles, mereka sukses meraup pendapatan tahunan hingga 54,030 miliar euro pada 2016. Namun perusahaan yang beroperasi sejak 1991 tersebut belum berhasil melakukan penetrasi ke Asia Tenggara, India, dan Amerika Utara.

Tantangan yang dihadapi PSA Group tidaklah mudah. Persaingan di Asia Tenggara, India, dan Amerika Utara ketat. Sampai sekarang, Ford dan GM juga gagal menyingkirkan Toyota, Honda, Isuzu, dan Mitsubishi di Asia Tenggara. Perusahaan riset Fourin pernah menyatakan Jepang menguasai 84% pasar mobil Asia Tenggara pada 2015. Presiden Ford ASEAN Matt Bradley berencana membuat mobil ramah lingkungan di Thailand.

Strategi itu sudah diterapkan Jepang sejak lama. Kini, PSA bersama Lotus dan Zhejiang Geely Holding Group juga mencoba menembus ASEAN. “Kami selama bertahun-tahun mencari cara untuk bisa masuk ke pasar ASEAN,” ungkap PSA seperti dikutip Autonews. Kondisi serupa juga akan dialami PSA saat berusaha memasuki pasar India dan Amerika Utara. Di India, PSA harus bersaing dengan produsen mobil lokal Maruti Suzuki yang menguasai pasar sebesar 47%. Lalu dengan Hyundai (17,3%), Mahindra (7,5%), Honda (5,4%), Toyota (4,6%), Renault (4,5%), Tata Motors (3,5%), Ford (2,6%), dan VW (1,1%).

Sementara itu, Volkswagen merasa tidak terancam dengan akuisisi tersebut. Pabrikan asal Jerman ini akan terus melakukan restrukturisasi di perusahaannya. “Opel dan PSA memiliki alasan masing-masing dalam transaksi ini. Hal ini tidak berpengaruh pada rencana kami. Kami memiliki idea kami dan pemikiran sendiri, dan akan bekerja sama dengan mereka,” ujar VW Chief Executive Matthias Mueller seperti dilansir Reuters. Saat ditanya apakah VW akan menghadapi tantangan yang lebih ketat dari PSA setelah mengakuisisi Opel, Mueller menjawab secara diplomatis.

“Kami melihat nanti Opel dan PSA sebagai kompetitor yang serius. Dua merek ini sekarang ada di satu atap. Saya rasa tidak akan ada yang berubah banyak,” ujar dia. (A.M)


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        : #Ekonomi Bisnis    
    Sumber  : okezone.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 




  Terupdate  






  Most Populer