Senin, 20 Maret 2017 - 14:53:41

Jual 3 Merek, Unilever Tak Tertarik Lagi Jualan Produk Margarin

    by : Gamanuel Yoga Elvradika Lien    
     
    Hits : 17    


NEW YORK - Unilevermempersiapkan diri untuk menjual beberapa merek makanan. Dari aksi tersebut perusahaan ini diperkirakan bisa meraih dana segar 6 miliar setara dengan US$ 7,44 miliar.

Sunday Times dikutip Reuters melaporkan, Unilever berniat menjual divisi margarin bermerk Flora, Bertolli dan Stork.

Seorang sumber menyebut, beberapa perusahaan private equity yang ditunjuk telah mulai bekerja menawarkan merek bisnis Unilever. Private equity tersebut diantaranya, Bain Capital, CVC dan Clayton Dubilier and Rice.

Sumber itu menyebutkan, Kraft Heinz menjadi calon pembeli potensial. Sayang, Unilever tidak merespon pertanyaan soal rencana penjualan merk makanan itu.

Divisi margarin Unilever ini memiliki pangsa pasar kurang dari sepertiga dari seluruh pasar margarin global. Divisi margarin ini sejak tahun 2014 telah menjadi entitas sendiri.

Divisi ini menghasilkan pendapatan sebesar 480 juta atau setara 4% dari total pendapatan yang dihasilkan Unilever.

Selain melepas bisnis margarin, Unilever juga berencana membeli kembali saham dan membayar dividen.

Strategi baru

Unilever meninjau lagi bisnisnya setelah pada bulan lalu, produsen bumbu sup Knorr, sabun Dove dan es krim Ben & Jerry tersebut penawaran menolak akuisisi dari Kraft Heinz.

Padahal, penawaran akuisisi oleh Kraft mencapai US$ 143 miliar.

Unilever justru memilih me-review kembali bisnisnya agar tetap bisa memberi keuntungan bagi pemegang saham.

Beberapa strategi yang dilakukan antara lain mengakuisisi perusahaan berskala medium dan memotong biaya secara agresif.

Hasil review ini akan diumumkan Unilever dalam beberapa minggu mendatang.

Sebelumnya sumber Financial Times mengatakan, Unilever akan menerapkan langkah radikal pada bisnis makanan.

Salah satunya dengan merger anak usaha makanan. Misalnya Lipton dan Knorr dilepas dari personal care. Lini bisnis makanan menyumbang sekitar 43% dari total pendapatan Unilever.

Rencana akuisisi Kraft atas saham Unilever memicu komentar dari Lord Paul Myners, mantan Financial Services Secretary Inggris.

Dia mengharapkan pemerintah tegas untuk melindungi perusahaan berharga dari perusahaan asing. Perusahaan seperti Unilever mempekerjakan ribuan orang di Inggris.

Karena itu, Meyners berharap harus melindungi para pemegang saham jangka pendek. Kata dia, aturan akuisisi perusahaan di Inggris paling permisif di dunia.

"Mereka tidak melakukan apa-apa untuk mencegah perusahaan seperti Kraft Heinz menghasilkan keuntungan sangat cepat. Apakah pemerintah benar melakukan cuci gudang seperti ini baik bagi perekonomian nasional dan masyarakat pada umumnya," ujar dia.

Kurs poundsterling yang murah membuat banyak perusahaan Inggris ditawar oleh perusahaan asing pada 2017. (AR)


    Category : Internasional    


    Tags : #internasional    


    Sumber : Tribunnews.com



Akses Riauaksi.com Via Mobile m.riauaksi.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 


  Terkini  



  Most Popular  



  Pilihan  


  Teknologi  


Cover Smartphone Ini Dibuat dari Material Mobil Mercedes Benz
STUTTGART - Produsen mobil premium Mercedes Benz merambah ke dunia smartphone. Namun perusahaan berlogo three point star itu bukan memproduksi

  Olahraga  


Fabiano Dukung Reformasi di Manajemen Persija
CILACAP - Bek Madura United Fabiano Beltrame senang dengan reformasi di tubuh manajemen mantan

  Ekonomi Bisnis  


Ini yang Bikin Penjualan Wholesales Mobil Daihatsu Indonesia Naik
JAKARTA - Merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales (pabrik ke diler) Daihatsu periode

  English Version  


"Tree Man" cured of rare disease that gave him branchlike hands and feet
AFTER enduring 16 gruelling surgeries spanning a year, Bangladesh’s “Tree Man” has finally been cured. Adul

  Unik  


Kambing di Bogor Doyan Makan Uang dan Rendang
BOGOR - Kambing merupakan makhluk herbivora alias hewan pemakan tumbuhan. Namun, kambing betina milik Tati (49) ini berbeda dari kambing lainnya,