Jumat, 05 Mei 2017 - 11:04:01

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2017 Mencapai 5,01 Persen

    Gamanuel Yoga Elvradika Lien Hits : 13509    

republika.co.id


Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2017 mencapai 5,01 persen (yoy). Angka ini membaik dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat tahun lalu sebesar 4,94 persen dan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2016 sebesar 4,92 persen. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan, dilihat dari struktur Produk Domestik Bruto (PDB), perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga dan investasi. Rinciannya, konsumsi rumah tangga memiliki porsi 56,94 persen dari seluruh pengeluaran dan investasi (PMTB) menyentuh 31,56 persen. 

Suhariyanto menyebutkan, konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2017 tumbuh 4,93 persen. Angka ini memang sedikit melambat, dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 4,97 persen. 

Perlambatan ini, lanjutnya, terjadi pada kelompok makanan minuman, perumahan, dan perlengkapan rumah tangga. Meski tumbuh melambat, ada beberapa indikasi yang mendukung. Dimana penjualan ritel di kuartal I hanya tumbuh 4,20 persen. 

Secara menyeluruh, lanjut Suhariyanto, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama berasal dari industri pengolahan, dengan kontribusi sebesar 20,47 persen dan tumbuh hingga 4,21 persen. Sektor selanjutnya yang menyumbang pertumbuhan tertinggi adalah pertanian dengan sumbangan 0,9 persen, dan perdagangan 0,64 persen. 

"Ke depan semua sektor yang padat tenaga kerja ini diharapkan bisa tumbuh lebih tinggi lagi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jumat (5/5).


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        : #Ekonomi Bisnis    
    Sumber  : republika.co.id


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Harbolnas, e-Commerce Pasang Target Transaksi Berkali Lipat

  Ekonomi Bisnis  




Kemenkeu Evaluasi Rencana Pemberian Rp 1,4 Miliar per Desa