Rabu, 19 Juli 2017 - 19:36:37

Tempat-Tempat Terlarang bagi Perempuan

    Michael B. Bara Hits : 20847    

tirto


Anda yang beragama Islam tentu tahu bahwa dalam Islam ada yang meyakini bahwa wanita yang sedang menstruasi tak boleh memasuki masjid, meski ada pula ulama yang membolehkan selama sang muslimah menjaga kebersihan masjid.  

Ternyata, aturan semacam itu tak hanya ada dalam agama Islam. Agama Hindu pun punya ketentuan yang mirip terkait perempuan menstruasi. Perempuan yang sedang datang bulan memang dilarang memasuki pura. 

Di Bali, pura adalah tempat suci untuk memuja Hyang Widhi. Darah menstruasi dianggap darah kotor yang ditakutkan dapat mengotori tempat ibadah tersebut.

Selain perempuan yang datang bulan, larangan tersebut berlaku juga kepada seseorang yang tengah menjalani masa cuntaka, yakni masa-masa ‘kotor’ akibat ada keluarga yang meninggal. Mereka baru bisa kembali memasuki pura setelah melewati 12 hari dari hari pengabenan. Larangan memasuki pura juga berlaku untuk orangtua yang mempunyai bayi di bawah umur enam bulan.

Jika aturan tersebut tidak dipatuhi, perempuan atau seseorang yang melanggar peraturan tersebut diyakini akan mengalami gangguan, mulai dari kerasukan, sakit, pingsan, dan hal-hal aneh lainnya.

Di Bali, diyakini bahwa batara atau holy spirit yang berdiam di pura akan marah ketika kediamannya dikotori. Konsekuensi tersebut bukan hanya berimbas pada pelanggarnya, namun juga kepada masyarakat yang menjadi pelayan pura tersebut.

Konsekuensinya beragam, mulai dari wabah penyakit sampai dengan bencana alam. Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat harus menebusnya dengan melakukan permintaan maaf yang diistilahkan sebagai ritual guru piduka. Satu ritual yang pelaksanaannya memerlukan biaya besar.

Hal yang sama juga terjadi di banyak tempat beribadah di negara-negara lain. Bahkan perempuan sama sekali dilarang masuk di pulau kecil Okinoshima.

Di pulau ini terdapat kuil Okitsu yang dibangun pada abad ke-17. Untuk masuk pulau ini, pengunjung laki-laki harus mandi telanjang di laut sebelum memasuki kuil. Dan pada saat meninggalkan pulau, mereka juga dilarang membawa cendera mata apapun maupun menceritakan rincian tentang kunjungannya.

Pulau Okinoshima telah dijadikan situs Warisan Dunia UNESCO sejak pekan lalu. Jumlah pengunjung yang dibolehkan masuk di pulau yang berada di Laut Jepang (Laut Timur) itu juga dibatasi. Tahun ini terdapat 200 orang yang diizinkan masuk.

Sebelum Kuil Okitsu dibangun, Okinoshima sudah digunakan untuk ritual mendoakan kapal-kapal, yang antara lain berlayar untuk hubungan perdagangan dengan Korea dan Cina.

Sekitar 8.000 artefak yang dibawa ke pulau sebagai persembahan dari luar negeri, seperti pedang, cermin, maupun termasuk beberapa cincin emas dari Semenanjung Korea ditemukan di pulau tersebut.

Pulau Okinoshima kini sudah dibuka bagi para pengunjung namun hanya untuk satu hari setiap tahunnya, yaitu setiap 27 Mei. Meski sudah terbuka untuk umum semua peraturan-peraturan kuno masih diterapkan.

Kebanyakan pendatang yang berkunjung ke sana adalah untuk mengikuti festival tahunan. Mereka hanya boleh berada di sana selama dua jam dan harus mematuhi sejumlah peraturan yang sangat ketat.

"Pelestarian ketat harus dilakukan sekarang setelah pulau tersebut terdaftar di UNESCO," kata pihak Munakata Taisha, penjaga kuil di Okinoshima. 

Okinoshima berada di lepas pantai barat laut Kyushu dan merupakan bagian selatan dari empat pulau utama di Jepang.

Pulau itu merupakan jendela penting untuk perdagangan luar negeri Jepang sejak zaman kuno, yang merupakan bagian rute yang menghubungkan negara kepulauan itu ke Semenanjung Korea dan China.


Bukan hanya pura dan kuil saja yang melarang kunjungan bagi perempuan. Sebuah masjid di kawasan Mumbai, India juga memiliki aturan serupa. Adalah Masjid Haji Ali Dargah, masjid apung di tengah laut yang menjadi salah satu ikon kota Mumbai ini melarang perempuan memasuki sebuah makam yang sangat disucikan di dalam lingkungan masjid.

Menurut kepercayaan warga setempat, kehadiran wanita di makam laki-laki muslim yang suci dianggap sebagai sebuah dosa besar.


Terlepas dari alasan peribadatan, terdapat beberapa tempat di dunia yang juga mengharamkan kunjungan perempuan. Beberapa di antaranya adalah stadion sepakbola di Iran dan Muirfield Golf Club di Skotlandia.

Pelarangan perempuan mengunjungi stadion sepakbola di Iran sudah tidak asing lagi di telinga warga dunia. Pemerintah Iran memang melarang wanita untuk datang ke pusat olahraga untuk menyaksikan sebuah pertandingan meskipun yang sedang bertanding adalah tim nasional negara tersebut.

Jadi, jika berlangsung sebuah pertandingan sepakbola di stadion yang digelar di Iran, bisa dipastikan tidak ada penonton perempuan sama sekali. Namun demikian mulai tahun lalu pemerintah Iran sedikit melonggarkan aturan dengan memberikan izin pada beberapa wanita menyaksikan pertandingan olahraga di dalam stadium setelah banyak aksi protes terhadap aturan tersebut.

Sementara itu, Muirfield Golf Club yang merupakan sebuah klub olahraga golf di negara Skotlandia, juga menerapkan pelarangan serupa. Tidak ada alasan jelas atas pelarangan ini. Yang pasti aturan ini telah diterapkan dan benar-benar tidak ada anggota wanita dalam klub tersebut.

Anehnya, aturan yang terkesan diskriminatif tersebut diikuti oleh klub golf lainnya yang bernama The East Lothian club.


Menanggapi aturan-aturan yang bias gender tersebut, beberapa pihak telah berusaha mengajukan protes sebagai aksi penolakan. Beberapa di antaranya terjadi pada aktivis India yang menilai manajemen kuil di India terlalu patriarkis. Selama beberapa abad, kuil dan dan tempat suci di India menggunakan tradisi yang melarang perempuan untuk masuk ke dalamnya. Aturan yang mereka buat telah menghalangi perempuan di India untuk beribadah.

Ratusan perempuan melakukan aksi jalan kaki dari kota Pune menuju ke kuil Shani Shingnapur di distrik Ahmednagar di daerah bagian Maharashtra.

"Tujuan kami adalah untuk memasuki tempat suci yang berusia 350 tahun yang terlarang bagi perempuan," kata Trupti Desai, pemimpin protes dan anggota kelompok hak perempuan Bhumata Brigade

Desai yang menyatakan diri sebagai seorang penganut Hindu mengatakan bahwa masuk ke kuil merupakan "hak konstitusional" untuk tiap perempuan.

"Ini merupakan tradisi yang dibuat oleh laki-laki. Tuhan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan," kata Desai.


    Category : Unik    
    Tags        : #unik    
    Sumber  : tirto


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Dongkrak Industri Dalam Negeri, GAIKINDO Sambut Positif Program Mobil Listrik

  Ekonomi Bisnis  




Pelaku Usaha Cari Stok ke Malaysia, Harga TBS Riau Turun Pekan Ini