Jumat, 15 Desember 2017 - 15:14:20

Faktor Eksternal Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2018

    Anggre Dwie Hits : 18625    

Cnnindonesia.com


Jakarta, RIAUAKSI.COM -- Bank Dunia menyebut bahwa kondisi global yang akan terjadi di sepanjang tahun depan akan memengaruhi kondisi di dalam negeri. Akibatnya, menjadi batu sandungan bagi pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Chief Economist Bank Dunia Frederico Gil Sanders mengatakan, beberapa kondisi tersebut, antara lain normalisasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang bisa memicu arus keluar dana asing dari Indonesia (capital outflow).

Tentu saja, ini bisa memperburuk kinerja investasi. Apalagi, Indonesia sukses mencetak pertumbuhan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mumpuni di kuartal III, yakni 7,1 persen. Selain itu, baru-baru ini The Fed juga telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke angka 1,5 persen.

“Normalisasi ini merupakan satu contoh saja mengenai risiko yang akan dihadapi Indonesia di tahun depan,” jelas Frederico, Kamis (14/12).

Tak hanya pertumbuhan investasi, fluktuasi harga komoditas dan kondisi ekonomi China juga bisa menghambat pertumbuhan ekspor yang sedang mengilap. Dengan kata lain, Indonesia bisa jadi tak akan mengulangi pertumbuhan ekspor sebesar 17,27 persen secara year on year.

Menurut ramalan Bank Dunia, harga batu bara akan jatuh ke angka US$70 per metrik ton di tahun depan dari rata-rata posisi saat ini US$85 per metrik ton. Hal yang sama juga terjadi bagi komoditas logam dasar. Namun, harga minyak kelapa sawit dan karet diprediksi masih kinclong tahun depan.

Pertumbuhan ekspor sebenarnya masih bisa membaik asal pertumbuhan ekonomi China tidak terus mengalami pelemahan. Pasalnya, China merupakan mitra utama dagang Indonesia saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non-migas Indonesia ke negeri tirai bambu tersebut ada di angka US$16,91 miliar atau 13,47 persen dari total ekspor antara Januari hingga Oktober 2017.

Sehingga, atas pertimbangan tersebut, Bank Dunia memprediksi kinerja ekspor bisa bertumbuh 6 persen secara tahunan atau lebih kecil dibandingkan prediksi akhir tahun 2017 yang sebesar 10 persen. “Kalau China terus mengalami deselerasi, dampak ke ekspor dan impor akan signifikan,” terang dia.

Kendati demikian, sentimen positif diperkirakan terjadi dari dalam negeri, utamanya dari 171 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di tahun depan. Menurutnya, ini bisa menjaga momentum pertumbuhan dari sisi konsumsi.

Namun, pemerintah tetap perlu wanti-wanti akan hasil Pilkada nanti. Sebab, berkaca dari semester I lalu, ketidakpastian akibat Pilkada DKI Jakarta dianggap berkontribusi terhadap keengganan masyarakat untuk konsumsi.

“Risiko Indonesia ini sebenarnya bersumber dari global. Kalau pemiihan umum mungkin bisa menciptakan konsumsi, seperti kaus kampanye dan lain-lain,” tuturnya.

Melengkapi ucapan Frederico, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves menyebutkan, satu hambatan eksternal lagi yang akan dihadapi Indonesia, yakni kebijakan proteksionisme dari negara-negara maju. Tentu saja, ini juga bisa menghambat pertumbuhan ekspor.

Tapi, menurut dia, Indonesia tetap bisa melesat di atas angin asalkan mampu mempertahankan pertumbuhan investasi di kuartal III sebesar 7,1 persen yang dianggap sebagai yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

“Untuk tahun depan, kami ramal ekonomi akan tumbuh di angka 5,3 persen karena ada kesinambungan kinerja di investasi. Jika ingin bergerak ke angka 5,5 persen, Indonesia perlu menciptakan tambahan lapangan pekerjaan dan menambah penerimaan agar bisa investasi di sektor infrastruktur,” pungkas Rodrigo.


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        :    
    Sumber  : Cnnindonesia.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Benarkah iPhone SE 2 akan Rilis?

  Ekonomi Bisnis  




Kemenkeu Jualan Sukuk Ritel SR 010, Imbal Hasil 5,9 Persen