Rabu, 10 Januari 2018 - 13:05:17

Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

    Anggre Dwie Hits : 6721    

Cnnindonesia.com


RIAUAKSI.COM - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mencapai titik tertingginya dalam tiga tahun terakhir pada perdagangan Selasa (9/1), waktu AS. 

Kenaikan ini dipicu oleh kesepakatan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan ekspektasi terhadap turunnya persediaan minyak mentah AS untuk delapan minggu berturut-turut.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$1,23 atau 2 persen menjadi US$62,96 per barel setelah menyentuh titik tertingginya sejak Desember 2014 di level US$63,24 per barel.

Sementara harga minyak mentah Brent mengakhiri sesi perdagangan dengan naik US$1,04 atau 1,5 persen menjadi US$68,82 per barel setelah sempat menyentuh level US$69,08, tertinggi sejak Mei 2015. Kedua kontrak mengalami penutupan perdagangan terkuat sejak Desember 2014.

Seperti diberitakan sebelumnya, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi minyak hingga akhir 2018 demi menahan penurunan harga minyak. Kesepakatan pemangkasan sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) ini telah dilakukan sejak Januari 2017.

Sememtara di AS, kenaikan harga di sesi perdagangan terjadi setelah Institute Perminyakan Amerika (API) menyatakan bahwa persediaan minyak mentah turun sebesar 11,2 juta barel menjadi 416,6 juta sepanjang pekan lalu. Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan prediksi sejumlah analis yang hanya berkisar 3,9 juta barel.

Jika pemerintah AS mengkonfirmasi data tersebut pada Rabu (9/10) pukul 10.30 AM, penurunan tersebut bakal menjadi yang terbesar sejak minggu yang berakhir pada 2 September 2016. Pada pekan tersebut persediaan minyak mentah AS melorot 14,5 juta barel.

"Ini merupakan sedikit konfirmasi atas apa yang dicari oleh para spekulan dan setelah laporan [persediaan minyak pemerintah AS], kita akan melihat apakah mereka bakal melakukan aksi ambil untung," ujar Rob Howard, Ahli Strategi Senior US Bank Wealth Management.

Kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC mengurangi pasokan minyak dunia, dan tren tersebut terlihat jelas di AS, pasar minyak terbesar dan paling transparan di dunia.

"Kami memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak bakal melampui pertumbuhan pasokan non OPEC pada tahun 2018 dan 2019," seperti tercantum dalam catatan analisis Standard Chartered.

"Dalam pandangan kami,harga Brent dan WTI masih di bawah harga wajarnya [underpriced]. Kami tidak berpikir bahwa harga di bawah US$65 per barel akan berlanjut untuk jangka menengah," lanjut catatan tersebut.

Banyak produsen minyak yang masih menderita karena jatuhnya harga mnyak pada 2014 lalu, menikmati reli kenaikan harga meskipun mereka waspada kenaikan tersebut bakal memicu lonjakan pasokan dari negara di luar OPEC. Iran mengatakan anggota OPEC tidak tertarik pada kenaikan harga.

Kenaikan harga minyak diperkirakan bakal memicu kenaikan produksi minyak AS selama tahun ini, mengimbangi pemangkasan yang dilakukan oleh produsen lain.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) kemarin menyatakan produksi minyak mentah Negeri Paman Sam diperkirakan melampaui 10 juta bph bulan depan, tertinggi sepanjang sejarah.

Produksi minyak mentah AS diperkirakan mencapai 10,04 juta bph pada kuartal pertama tahun ini.

Beberapa analis telah menyatakan bahwa kenaikan produksi minyak shale AS dapat mematahkan semangat OPEC dan Rusia untuk mempertahakan kesepakatan pemangkasan produksi karena takut kehilangan pangsa pasar.

"Saat ini saya sedang mencari pola teknis penurunan [bearish] pada harga minyak karena saya percaya harga minyak akan kesulitan untuk terus naik ke kisaran US$65-US$75 per barel dengan pertimbangan fundamental di atas," ujar Fawad Razaqzada, Analis Teknis Forex.com.

"Jika harga WTI bakal kembali di bawah titik tertinggi tahun 2017 sebesar US$60,48 per barel yang dicapai pada akhir tahun, dan harga pembukaan untuk tahun 2018 sebesar US$60,09 per barel maka proyeksi teknis akan menjadi turun [bearish] untuk harga minyak. Namun, untuk sekarang, tren kenaikan harga [bullish] masih terjadi mengingat harga masih di atas level support utama," tambahnya.


    Category : Ekonomi Bisnis    
    Tags        :    
    Sumber  : Cnnindonesia.com


0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 








  Terkini  



  Most Popular  



  Teknologi  




Rilis Zenfone Anyar, Asus Janjikan Kejutan di MWC 2018

  Ekonomi Bisnis  




Harga Minyak Dunia Turun